Atiek Nur Wahyuni

Saat membimbing anak buah, saya selalu menanamkan pentingnya kemampuan melihat big picture. Terkadang, karena dituntut mengejar target tinggi, kita menjadi berpikir sempit dan egois, hanya memikirkan target dan kepentingan sendiri. Di sini diperlukan peran pemimpin tim untuk membantu anak buah melihat kepentingan secara lebih luas. Mereka harus mampu memahami kendala-kendala yang dihadapi divisi lain. Sebagai future leader, mereka harus bisa berpikir luas dan bekerja sama, tidak hanya memikirkan target masing-masing, tetapi kepentingan bersama yang lebih besar.

Selain itu, para anak buah perlu didorong untuk berani memasang target tinggi, menggapai sesuatu yang sulit. Target jangan dilihat sebagai beban, melainkan sebagai challenge. Mereka harus berani mengambil tantangan yang berat dan berpikir besar. Mereka juga tidak boleh berkompromi terhadap kualitas dan harus konsisten memberikan hasil terbaik. Hanya dengan begitu mereka akan maju dan menjadi lebih besar.

Menyangkut peran penting membimbing anak buah, saya mencontoh Pak Chairul Tanjung, pemimpin kami di CT Corp dan Trans Media. Beliau selalu berbagi, mengajari kami berbagai macam hal, membuat kami semakin berwawasan luas dan maju.

Pak Chairul selalu mengingatkan kami tentang idiom “the devil is in the detail”. Kesuksesan dan kegagalan kita sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mengerjakan detail-detail pekerjaan. Prinsipnya, kita memang harus mengerti dulu big picture dari sebuah permasalahan, tetapi kita tidak boleh terpesona hanya oleh gambaran besar tersebut. Kita harus memberikan perhatian terhadap detail, bahkan yang terkecil, sehingga hasil pekerjaan kita menjadi sempurna.

Mira Amahoerseya

Untuk membangun sebuah entitas bisnis, butuh integritas. Makin besar perusahaannya, makin besar pula integritas yang dibutuhkan. Integritasharus dilandasi dengan passion, loyalitas, ketekunan, dan komunikasi terbuka. Ini semua akan membawa kesuksesan bersama pada perusahaan kita.

Menurut saya, percuma saja memiliki karyawan yang hanya punya passion, tetapi tidak loyal. Ujungujungnya pasti akan berhenti. Keempat hal itu yang saya bangun di Sarinah. Memang, menciptakan karyawan yang berintegritas tak semudah membicarakannya.

Salah satu modal terkuat saya ialah adaptasi. Ini memang bakat atau karakter. Tetapi, tentunya bisa dipelajari dan dilatih. Saya ini orangnya suka berteman sehingga punya banyak teman dari berbagai kalangan. Bahkan, sahabat dari SMP dan SMA tetap terjalin erat sampai sekarang tidak putus komunikasi, sering nonton atau makan bersama. Kegiatan bertemu kawankawan ini selain untuk menjaga silaturahmi, juga bisa untuk memperluas jaringan.

Mira Lesmana

Bicara soal networking, saya terlebih dahulu ingin menekankan bahwa berjejaring tidak sama dengan kegiatan “lobby-lobby”. Jangan sampai salah memahami bahwa membangun networking harus dilakukan dengan cara seperti sering meng-entertain klien, pergi menemani main golf, rajin mengirim bingkisan, atau trik-trik lain yang umum dilakukan para salesman.

Saya tidak suka melakukan semua itu. Bagi saya, kegiatan-kegiatan “networking” semacam itu sungguh permukaan sekali. Bagi saya, networking adalah kegiatan berteman dan membangun kepercayaan. Bukan sekadar mencari banyak kenalan sebagai jalur untuk mendapat project. Menurut saya, kepercayaan adalah hal terpenting yang membantu kita dalam karier dan bisnis. Dan, sebetulnya, saya memang tak membangun networking dengan tujuan melicinkan project.

Pada dasarnya saya memang suka bergaul. Suka ngobrol-ngobrol, suka ngopi-ngopi. Saya membangun network lewat ketulusan, kejujuran, dan kegembiraan dalam berteman. Semua berjalan secara natural. Tanpa ada maksud untuk melancarkan bisnis. Dari pengalaman, saya memahami ada dua hal penting dalam membangun network, yakni Kapabilitas dan Integritas. Agar perusahaan bisa selalu tepercaya, kita harus menunjukkan hasil kerja yang baik. Kita harus menunjukkan kemampuan. Kita harus profesional.

Nurhayati Subakat

Kehadiran para karyawan menjadi bagian penting dari perusahaan. Saya merasa bertanggung jawab atas kehidupan mereka dan keluarganya. Saya menganggap mereka sebagai anggota sebuah keluarga besar. Berkat suasana kekeluargaan yang tinggi, tingkat retensi para karyawan di perusahaan kami relatif tinggi.

Sekarang ini, jumlah karyawan sudah sekitar 7.500 orang, kebanyakan adalah perempuan. Ini tidak ada kaitannya bahwa si pemilik bisnis adalah perempuan. Tetapi, bisnis kosmetik memang identik dengan perempuan, walau sebetulnya diperlukan juga karyawan laki-laki, terutama di bagian operasional dan distribusi. Sejujurnya, saat ini perusahaan merasa kekurangan karyawan laki-laki. Tetapi, entah mengapa, setiap kali kami membuka lowongan pekerjaan, yang melamar perempuan lagi.

Pada awal merintis usaha, saya hanya merekrut para tetangga. Ketika itu kami belum memiliki staf HRD. Jadi, proses perekrutan tidak melalui tes. Dan, sekarang pun, kebanyakan karyawan kami, yang di Swadarma Raya maupun di pabrik baru kami di Tangerang, berasal dari daerah sekitar.

Dalam pandangan saya, merekrut warga sekitar sangat baik bagi bisnis. Selain bisa memberdayakan masyarakat di sekitar tempat usaha, kebijakan tersebut dapat memperkuat kekeluargaan. Kita juga akan saling menjaga.

Shinta Dhanuwardoyo

Ketika saya memulai bisnis internet, yang dinamakan Bubu, Google belum berdiri. Itu terjadi di tahun 1996, ketika saya baru satu setengah tahun kembali di Tanah Air, selepas kuliah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, komputer masih merupakan barang langka di kantor-kantor. Apalagi internet! Kebanyakan orang Indonesia belum mengenalnya.

Tetapi, boleh dikata, ketika itu saya benar-benar jatuh cinta dengan internet. Sejak pertama kali mengenal dan mendalaminya di laboratorium komputer tempat saya bekerja paruh waktu di Amerika, saya sangat terpesona dengan kekuatan internet. Bayangkan, orang bisa mengakses pengetahuan tanpa dibatasi lokasi dia berada. Ketika itu, saya berpikir, ini pasti akan menjadi sesuatu yang luar biasa bagi dunia, termasuk Indonesia.

Saya mulai berpikir untuk terjun ke dunia internet. Saya punya banyak ide seputar hal-hal yang bisa dilakukan melalui media internet. Dan, saya sadar, ide hanya akan tetap sebatas ide bila kita tidak mewujudkannya. Ide tidak akan jadi apa-apa bila tidak dieksekusi. Idea is cheap without execution! Bagi saya, suatu ide baru berharga bila kita berusaha mewujudkannya.

Suzy Hutomo

Saya senang melihat perempuan yang punya ambisi dan tidak takut gagal. Maka dari itu, apabila Anda ingin menjadi sesuatu yang luar biasa, itu berarti Anda harus berani menjadi diri sendiri.

Perempuan itu multitasking. Dia bisa menjadi seorang manajer sekaligus seorang ibu yang perannya tak tergantikan. Untuk menjadi seorang pemimpin, seorang perempuan haruslah mempunyai passion, punya keberanian untuk bangkit dari kegagalan, dan selalu menjadi dirinya sendiri.

Saya hanya satu dari ribuan perempuan Indonesia yang memiliki tanggung jawab kepada keluarga. Tetapi, pada saat bersamaan juga bertanggung jawab menghidupi keluarga karyawan di perusahaan yang saya pimpin, The Body Shop Indonesia. Bukan tugas yang mudah, tetapi bukan pula tugas yang berat. Sebab, saya melakoninya dengan hati.

Tri Rismaharini

Lazimnya dalam hidup, selalu ada ujian. Banyak tantangan yang harus saya hadapi dalam menjalankan amanah sebagai wali kota. Meski saya berusaha memikirkan yang terbaik bagi semua pihak, ada saja orang yang tidak suka. Bahkan, adakalanya, mereka berusaha menjatuhkan saya.

Namun, saya tidak pernah memandang mereka yang menentang sebagai lawan. Saya anggap mereka memiliki kepentingan yang berbeda dengan saya. Saya tidak boleh takut. Saya selalu berdoa memohon pertolongan Tuhan. Ketika saya merasa ada orang yang berusaha menjatuhkan, saya hanya akan mengingat tujuan saya. Semua yang saya lakukan ialah untuk masyarakat, bukan untuk diri saya sendiri. Kesadaran ini memberi kekuatan kepada saya.

Yani Panigoro

Kesuksesan sebuah perusahaan, besar atau kecil, tak lepas dari peran dalam pengelolaan sumber daya manusia dengan baik. Bisa dikatakan, 70 persen dari kesuksesan sebuah perusahaan ditentukan oleh faktor pengelolaan sektor ini. Itu sebabnya, mengelola sumber daya manusia merupakan hal yang harus direncanakan dengan baik dan matang. Bila tidak, kerumitan pun bisa terjadi.

Dalam mengelola karyawan, kita tidak hanya mengandalkan logika, tetapi juga menggunakan hati dan empati atau ikut merasakan apa yang tengah dialami para karyawan. Sebab, mereka bukanlah mesin. Seperti perangkat komputer misalnya, yang dengan mudah kita bisa restart, pause, atau malah shut down kapan saja, sesuka hati kita.

Saya kerap diminta untuk ikut turun tangan ketika terjadi masalah dalam hal sumber daya manusia. Saya diminta mencari solusi terbaik, yang sedapat mungkin, adil bagi karyawan dan perusahaan. Naluri keibuan saya, selalu berkeinginan setiap karyawan bisa bekerja dalam suasana nyaman.